Skip to content

Info Terkini

www.hermawanchaniago.com

dari Meja Budaya

Agustus 16, 2009
tags:

Ingatlah Segala Yang Baik

CHAIRIL Anwar menerjemahkan puisi “Huesca” karya Jhon Confort dengan sangat indah. Sebagian kita kutip berdasarkan ingatan (maaf, sebagian mungkin salah):

jiwa di dunia, yang hilang jiwa,

jiwa sayang kenangan padamu adalah derita di sisiku,

bayangan yang bikin tinjauan beku.

angin bangkit ketika senja,

ngingatkan musim gugur akan tiba

aku cemas bisa kehilangan kau,

aku cemas pada kecemasanku

di batu penghabisan ke huesca,

pagar terakhir segala kebanggaan kita

ingatlah sayang, kenanglah dengan mesra

dan jika untung malang menghamparkan aku ke kuburan dangkal,

ingatlah sebisamu, segala yang baik dariku dan cintaku yang kekal….

A ALIN DE seperti ahli nujum dalam drama Antigone karya Sophokles. Ia menitip puisi Huesca ke tukang-kaba dalam DRAMA PELARIAN, karya teater terakhirnya yang tak sempat ia tonton,  dipentaskan Selasa, 21 Agustus 2007 di Taman Budaya. Alin wafat tiga hari sebelumnya, pagi menjelang latihan. Alin wafat hampir seperti Hamid Jabbar, salah seorang sahabatnya, -kebetulan sama-sama pendiri BUMI TEATER-  yang dipimpin Wisran Hadi. Kebetulan keduanya jauh beberapa tahun sebelumnya seperti bersepakat keluar menuinggalkan grup itu. Hamid seorang penyair, wafat ketika sedang baca puisi beberapa tahun lalu.  Alin dan Hamid secara pandangan di dunia, mati syahid. Orang yang wafat saat berjuang di medan kesenian. Alin di teater, Hamid di puisi. Kebetulan Hamid juga wafat di usia 55 tahun.

Menurut pengalaman saya, keduanya orang baik, dan tidak temasuk dalam kelompok manusia yang sok moralis tapi sehari-hari munafik! Keduanya penganut mazhab sesuai kata dengan perbuatan. Karya kedua orang ini pun, -walau berbeda media seni-: melawan kekuasaan dan kemunafikan. Keduanya juga tak mau bertopeng, terutama dalam kehidupan sebenarnya. Banyak seniman segenerasi Alin dan Hamid, -beberapa orang berusia lebih tua di mereka- terserang virus, yang menurut budayawan Emeraldy Chatra, adalah virus MKS-32.

Mereka seperti moralis, berlagak dan berekspresi bak budayawan. Bahkan tanpa malu-malu berdoa segala ke Tuhan dalam ritual keseniannya.Padahal yang dilakukannya seringkali bertentangan dengan Tuhan. Semestinya karya kita tidak berseberangan dengan yang kita lakukan. Mari kita doakan Alin mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan. Orang-orang muda, khususnya kaum seniman perlu belajar dengan  segala yang baik yang ditinggalkannya. Amin. (abhaza)

“Kekuasaan” Terakhir A.Alin De Melawan Mitos

Oleh Asbon Budinan Haza

PEMENTASAN “Drama Pelarian” karya A Alin De di Teater Tertutup Taman Budaya Sumbar, Selasa, 21 April 2005 yang mendahului Festival Teater Sumatra Barat 2007, sesak dengan penonton, keheningan dan renungan. Pementasan terakhir A Alin De ini tidak cuma meninggalkan harapan bahwa layar teater masih akan tetap terkembang. Sekaligus menyisakan pertanyaan, gugatan atas mitos Pagaruyung dan Cindo Mato yang hidup di sejumlah kepala orang Minang.

MEMASUKI gedung teater penonton sudah dibawa ke suasana muram dengan set panggung khas Alin: layar merah, kuning, hitam, hamparan tikar, dengan latar belakang 4 sosok ampek balai yang melotot tajam bagai kan menerkam. Kabut mitos Pagaruyung merayap pelan menyiram panggung yang sesak oleh tukang kaba.

Dang Tuanku Sutan Rumandung sedang menatap ke “bawah” sedang digoyang berbagai wacana ingin berkuasa, menyaksikan kerajaan yang ia tinggalkan berubah seperti Pagaruyung Baru, kekuasaan baru! Rumandung terbuai oleh aroma kekuasaan yang digesek para tukang kaba. Puti Bungsu sedang bersolek sambil menina-bobokan Rumandung dengan masa depan kekuasaan.

Naskah ini bercerita dalam setting di sebuah kapal, dalam pelarian rombongan Bundo Kandung, Dang Tuanku (Sutan Rumandung) dan Puti Bungsu setlah kerajaannya diporak-porandakan oleh Tiang Bungkuk.

Teater ini menyemburkan peluru konflik terhadap impian kekuasaan, hasrat kekuasaan, hasrat berkuasa dalam bungkus matrilini. Alin mengejek, bahwa Bundo Kandung dan Sutan Rumandung tetap hidup dalam nyanyian tukang kaba. Dan kecemasan terhadap Tiang Bungkuak yang masih berkeliaran dimana-mana. Rombongan Bundo Kandung karena ketakberdayaan lari meninggalkan Pagaruyung, mengirap ke langit.

Teater ini bisa menjadi obat kegelisahan intelektual terhadap mitos dan sejarah yang bertahun-tahun menyelimuti kita. Pernyataan bahwa Sutan Rumandung berasal dari saripati santan kelapa gading, perselingkungan Puti Bungsu dengan Cindua Mato (dan hampir semua lelaki yang ia mau), dan ambisi kekuasaan yang membara pada Bundo Kandung bagai membakar mitos itu, meninggalkan debu kelam: ambisi berkuasa yang tak padam. Mereka tak pernah mati, sehingga generasi masa depanpun harus dibunuh.

Dari mulut Sutan Rumandung menjuntai lirih kalimat: bukankah generasi masa lalu selalu ingin membunuh generasi masa datang?

Sayang Alin lebih dulu pergi, sehingga dialog mempertanyakan sejarah dan mitos itu terhenti masuk dalam kubur. Dan tukang kaba makin bersileweran ke rumah-rumah menyanyikan keperkasaan Pagaruyung yang masih bertahta kuat bersama si Gumarang, Si Binuang dan Si Kinantan. Kita seorang yang jago berpacu, kuat bekerja dan dan piawai berkukuk. Padahal kita sudah tinggal karabang. Karabang itu tetap bergerak karena mitos itu masih bertiup kencang dari tukang-tukang kaba.

Alin sejak dulu gemar dengan ide kekuasaan. Mulai dari ketika memerankan naskah Caligula-nya Albert Camus (tak jadi dipentaskan), menggarap Antigone karya Sophokles, dan kini Drama Pelarian. Dulu Alin menggarap naskah orang lain dan menyadurnya, kini Alin menulisnya sendiri. Sehingga Alin bisa bergerak bebas dan naskahnya juga bisa porak-poranda beriringan dengan ide-ide liar yang berkembang sepanjang latihan.

Dan tampaknya Alin tak sendiri. Isteri dan anak-anaknya yang ikut bermain dalam DRAMA PELARIAN tersebut mendukungnya habis-habisan. Mereka tak sekedar mendukung. Mereka menunjukan bakat dan minat yang luar biasa.  Erlina Ernawati, -isteri Alin, yang berperan sebagai Bundo- bukan pemain kemarin. Dia tampil secara profesionil. Anak Alin, Gondan Gerhana yang berperan sebagai Sutan Rumandung pun bermain total dan sangat ekspresif. Saya pikir dia bisa menjadi pemain teater yang diperhitungkan di masa depan. Juga pameran Puti Bungsu tentu.***

A.Alin De dan Sebagian Konsep Teaternya

ALIN sering kali “mencincang” naskah orang. Terkadang dia seakan melihat, naskah hanya sebuah ide. Sehingga tak aneh, penyelenggaraan Dramatisasi Cerpen yang diadakan lebih 20 tahun yang lampau, tak jauh dari pencarian sumber ide. Ini sebagian konsep kerja teater A Alin De yang disampaikan pada Pertemuan Teater 80 yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, tahun 1980. Sejumlah tokoh teater Indonesia seperti Rendra, Putu Wijaya, N.Riantiarno, Wisran Hadi dan lain-lain juga memaparkan konsep teaternya. Alin mengambil kesenian tradisi Minangkabau sebagai basis bahan baku teaternya. Terutama soal bentuk teater. semangat teater, akting dan vokal.

MASA persiapan  berteater dilalui dalam dua tahap, masa persiapan bahan baku: latihan kesenian tradisi seperti pantun atau gurindam yang akan didendangkan sebagai pengantar dari adegan ke adegan, membangun irama dan gerak. Sumbernya bisa dari Indang, Randai, Sijobang, Ulu Ambek atau Balabek.

Selama masa perkembangan atau latihan-latihan persiapan tersebut secara pelan-pelan pembagian-pembagian tugas mulai dilaksanakan. Pemain sendiri yang memilih apa yang menjadi bebannya. Atau sutradara yang mengaturnya. Kini tergantung kepada beban yang mereka pilih. Jika tak tercapai, baru ada bongkar-pasang pemain.

Tentang vokal, kemampuan vokal berdasarkan bakat alam, dari didikan lingkungan, karena umumnya mereka lahir di kampung yang memerlukan vokal yang lantang dan keras. Karena mereka anak petani, hidup dari petak sawah ke petak sawah, dari seberang sungai, dari lembah ke bukit, bahkan dari suara deburan ombak di pantai. Hasil didikan alam sejak kecil itu itu sangat banyak membantu.

Tentang akting, sumbernya kepandaian mereka mengurak langkah yang menjadi dasar dalam silat. Mereka bisa belajar dari penghulu berpidato dalam upacara adat, atau akting anak randai atau indang.***

Setting Kehidupan Orang Minangkabau dan Ekstasi Media (4)

Oleh Emeraldy Chatra

PENTAS kehidupan masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat adalah sebuah gelanggang terbuka, dengan berbagai ragam prilaku sosial, politik dan ekonomi disekitarnya. Khalayak di sekitar pentas menginginkan yang di atas pentas berprilaku sesuai dengan keinginannya: mereka ingin mengontrol pikiran dan tindakan.

Mereka yang mempunyai kepentingan ekonomi ingin menjadikan masyarakat Sumatera Barat tunduk kepada prilaku konsumtif dan boros yang mereka ciptakan. Sedangkan mereka yang berkepentingan secara politik menginginkan masyarakat ini menjadi pengikut-pengikut yang setia dengan keuntungan terbesar di pihak mereka. Sementara yang lainnya berkepentingan mengendalikan orientasi berpikir, naluri seksual, gaya hidup, aqidah, dan sebagainya.

Pertanyaannya sekarang, siapkah masyarakat Sumatera Barat menentukan pilihan sendiri secara bebas di tengah hiruk pikuk berbagai kepentingan tersebut? Hal inilah yang sangat merisaukan.

Sejak awal abad ke-20 telah terjadi perubahan yang sangat cepat di kalangan masyarakat Sumatera Barat, khususnya suku Minangkabau. Manuver-manuver politik yang dilancarkan dari luar menyebabkan orang Minangkabau tercabik-cabik dan terkotak-kotak ke dalam berbagai ideologi politik, bahkan pernah saling berbunuhan.

Dampak dari pertikaian politik penting, berdarah maupun tidak, masih dapat dirasakan hingga saat ini dalam wujud yang tidak cukup mudah diamati, yaitu saling mencurigai dan menipisnya modal sosial (social capital) yang substansinya rasa saling percaya (mutual trust) dan motivasi menjalani kehidupan bercorak komunal.

Menurunnya modal sosial menyebabkan makin banyak orang Minangkabau yang sulit terintegrasi ke dalam organisasi, bahkan kedalam organisasi  kekeluargaan tradisional pun seperti kaum, paruik, dan suku. Kalaupun mereka menjadi bagian dari organisasi itu biasanya dengan komitmen rendah hingga sedang-sedang saja. Organisasi yang bersifat top down dan keanggotaannya wajib malah dimasuki tanpa komitmen sama sekali, semata-mata karena ingin menyelamatkan diri. Implikasi dari keadaan ini sangat luas, termasuk sulitnya mensinergikan dan mengakumulasikan kekuatan yang ada dalam masyarakat.

Modal sosial yang tipis juga ibarat lahan kering yang tidak sanggup menumbuhkan bakat-bakat kepemimpinan dan orang-orang kreatif yang mampu menyegarkan iklim kehidupan. Orang Minangkabau akhirnya harus pergi merantau kalau ingin jadi orang besar dan terpandang.

Inilah drama kehidupan yang mengkuatirkan. Tanpa modal sosial yang besar, orang Minangkabau menjadi rapuh dan rentan terhadap sorak-sorai orang-orang di sekitar pentas yang seluruhnya menganggap diri sutradara. Masing-masing “sutradara” ingin skenarionya dimainkan lebih dulu karena penting untuk keuntungan jangka pendek maupun panjang.

Kemungkinan orang Minangkabau tertarik kesana-kemari semakin besar ketika para “sutradara” menggunakan media komunikasi yang canggih untuk menguasai pikiran para pelakon. Mereka menguasai media-media yang dapat menyebarluaskan film/sinetron seperti televisi, bioskop, sampai VCD/DVD yang semuanya didukung oleh kekuatan kapital dan iptek. Melalui media-media inilah pola-pola prilaku baru dan asing  dipromosikan, pikiran diarahkan, dan keyakinan relijius digerus terus menerus.

Seringkali dalam proses itu masyarakat tidak menyadari bahwa dengan menonton film atau sinetron mereka sedang dikendalikan, dipermainkan, dipermalukan dan dimiskinkan. Mereka tidak menyadari dirinya sedang disuntik dengan obat perangsang: kita sebut saja Ekstasi Media[1]. Sebagian dari mereka malah menerima injeksi sang “sutradara” dengan kebanggaan, merasa diri lebih “maju” dibandingkan yang lain. Kebanggaan semu inilah yang disebut efek narkotika dalam khasanah ilmu komunikasi.

Dari proses-proses demikian kita kemudian menemui kenyataan yang serba berbeda dengan harapan. Penyakit-penyakit sosial berkembang tanpa ada yang sanggup mengendalikan. Yang paling menyedihkan dari keadaan itu, korban sang “sutradara” justru kebanyakan kaum muda produktif, yang diharapkan bisa mengantarkan masyarakat menjadi lebih berkualitas tanpa melupakan nilai-nilai dasar kebudayaannya. Ekstasi Media menyebabkan mereka kehilangan identitas kultural, tidak mempunyai acuan prilaku yang pasti, dan kebingungan menjelaskan siapa diri mereka sesungguhnya. Dalam kondisi demikian sebagian kaum muda mencari jawabannya dalam kubangan narkotika dan obat-obat terlarang.

Sumatera Barat saat ini telah menjadi salah satu wilayah peredaran narkotika yang patut diperhitungkan, disamping makin berkembangnya gaya hidup liberal yang menjadi lahan subur bagi prostitusi  dan penyebaran HIV/AIDS. Kehidupan orang muda di pedesaan yang dulu diyakini masih tunduk kepada tatanan adat dan agama, kini menjadi keyakinan yang menyesatkan. Mereka adalah sasaran empuk intervensi media televisi dan pornografi (terutama melalui VCD/DVD). Di pedesaan sikap kritis orang muda dalam menanggapi bujuk rayu sang “sutradara” justru lebih rendah, dan mereka lebih rentan dibandingkan orang-orang muda di kota yang relatif lebih berpendidikan.***

Tentang Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB) 2007-2010:

Berbagi Peran dengan Taman Budaya

dan Anggaran Proporsionil DKSB

Oleh Asbon Budinan Haza

BAGIAN TERAKHIR DARI TIGA TULISAN

INILAH lembaga yang mesti berperan memikirkan bagaimanaa dunia kesenian sebagaimana mestinya. Barangkali kerjanya, lebih banyak rapat, monitoring, evaluasi, menyiapkan program dan mengajukan anggarannya, merekomendasi, sudah. Secara rutin turun ke daerah, ke sanggar-sanggar seni, menemui seniman, memberikan rekomendasi ke Gubernur.

BAGAIMANA mestinya peran DKSB? Peran itu yang perlu dirumuskan kembali oleh para seniman dan Gubernur. Pertama, supaya tidak tumpang tindih apa yang dikerjakan Taman Budaya dan DKSB. Dengan demikian tidak ada dana yang terbuang percuma. Siapa yang merancang, siapa yang menjalankan dan siapa yang mengawasi? Saatnya kini duduk bersama membahasnya. Gubernur bisa memanggil Dinas Parsenibud Sumbar, DKSB dan mengajak sejumlah orang yang tak terlibat di kedua lembaga itu untuk berembuk. Dari hati ke hati, terbuka, rasional dan proporsional. Apa yang menjadi tugas Taman Budaya, bedakan dengan apa yang dikerjakan  Dewan Kesenian Sumbar (DKSB). Dan bagaimana sifat hubungan DKSB dengan Dewan Kesenian di daerah, rumuskan. Tidak jalan sendiri.

Kedua, dengan pemisahan tersebut kedua lembaga akan bisa bekerja maksimal. DKSB berwenang di bidang program dan anggarannya, Taman Budaya bertugas melaksanakan secara teknis apa yang sudah menjadi program DKSB, termasuk soal sarana dan prasarana berkesenian. Secara sederhana saya bisa menggambarkan sebagai berikut:

DKSB, menyiapkan seluruh program kesenian, mulai dari pementasan tari, musik dan teater, pameran senirupa hingga diskusi atau sarasehan seni. DKSB menyiapkan program itu berikut rancangan anggarannya. Jadi soal nilai, mutu dan apresiasi masyarakat merupakan tugas dan tanggung-jawab DKSB.

TAMAN Budaya Sumbar sebagai salah satu unit Pelaksana Teknis Daerah mempunyai tugas dan fungsi sebagai fasilitator dan mediator kegiatan kesenian. Yerutama soal sarana kesenian, pembangunan gedung kesenian, perawatan sarana berkesenian, penata acara, kebersihan dan sebagainya menjadi tugas Taman Budaya! Kita terhindar dari saling menyalahkan. Kontrol yang diperlukan dari pers, lsm dan seniman.

JIKA demikian, saya yakin DKSB pasti punya wibawa dalam soal kesenian, selain memerlukan Ketua Umum yang memiliki mantagi kuat, all-out bekerja dan dipercaya. Lembaga ini yang memegang otoritas dalam kesenian di Sumatera Barat. Masyarakat bisa meminta pertanggungan-jawab soal nilai kesenian dan apresiasi kesenian.

Dan Taman Budaya pada akhirnya semakin profesionil. Tugasnya menyelenggarakan program atau produk kesenian yang sudah menjadi keputusan DKSB. Mulai dari persiapan gedung, lampu, pendingin ruangan, penyebaran undangan, poster dan pemasangan spanduk atau baliho.

Karena Taman Budaya yang memiliki otoritas sarana gedung, lembaga ini bisa mengkomersilkan sarananya kepada pihak lain, di luar program DKSB yang sudah ditetapkan. Saya yakin kalau seniman dan Gubernur memiliki pandangan yang sama, persoalan kesenian kita Insya Allah bisa kita selesaikan dan mendapatkan hasil sebagaimana kita harapkan bersama.

BERAPA dana yang layak buat DKSB?

Ini sekedar wacana, akan tetapi bisa masuk akal pabila kita berfikir secara proporsionil saat ini. Tergantung kepada kita. Inilah gambarannya.

PERTAMA, jika DKSB dengan seorang Ketua Umum (KU), 4 orang Ketua Bidang (KB), 2 orang Sekretaris (S), 2 orang Bendahara (B), 5 orang Ketua Komite (KK), 5 orang Wakil Ketua Komite (WKK) dan 3 orang Staf Sekretariat (SK), untuk ukuran kini mereka harus diberikan gaji/honor sebagai berikut:  1 KU x @ 6jt/bln x 12 bln =Rp 72jt + 4 KB @ Rp 3jt/bln x 12 bln = Rp 144jt + 2 S @ Rp 2,5jt x 12 bln = Rp 60jt + 2 B @ Rp2,5 jt x 12 bln = Rp 60jt + 5 KK @ Rp 2jt x 12 bln = Rp 120 jt + 5WKK @ Rp 1,5jt x 12 bln = Rp 90jt + 3 SK @ Rp 1jt x 12 bln = Rp 36jt. Jumlahnya : Rp 682jt/tahun. Jika biaya operasional seperti telepon, listrik dan air ditambah transportasi sebanyak Rp 10jt/bulan berarti setahun jumlahnya Rp 120jt.

KEDUA, untuk program. Jika setiap Komite memiliki 10 kegiatan setahun dengan plafon nilai Rp 20jt per-kegiatan, jumlahnya 5 x 10 x Rp 20jt = Rp 1 milyar/tahun. Dengan demikian anggaran ideal DKSB tersebut adalah : Rp 682jt + Rp 120jt + Rp 1milyar. Jumlahnya : Rp 1,802 milyar. Saya pikir tidak terlalu besar. Cobalah hitung-hitung dengan orang event organezer, manager keuangan, anggota DPRD Sumbar dan Gubernur Sumbar. Orang Minang pasti jago berhitung! Dan jangan lupa siapkan akuntan publik dan KPK.*** Asbon Budinan Haza, Ketua Umum Perhimpunan Seniman Indonesia (Persindo) Sumatra Barat.

Kronik Budaya:

Sayembara Menulis Kritik Sastra DKJ

KALAU anda memiliki ketajaman dalam menggali kekhasan karya, biasa menelaah secara inspiratif dengan ide orisinal, argumentasi yang meyakinkan, apalagi ada keberanian menafsir dan kesegaran persfektif, tidak ada salahnya mencoba ikut dalam Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2007.

Kriteria penjurian sayembara yang diselenggarakan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang bertemakan “Sastra Indonesia Memasuki Abad kw-21” persyaratannya seperti itu.

Sayembara ini muncul ditengah suburnya penciptaan, banyaknya penulis baru, buku-buku sastra baru tapi tak diimbangi keberadaan kritik sastra yang baik dan sehat, apalagi berkembang menjadi tradisi pemikiran pelbagai wacana sastra.

Penyelenggara membantu anda dengan berbagai pertanyaan: adakah kebaruan dalam sastra Indonesia setelah tahun 2000? Apakah ada terlihat keberlanjutan dari tradisi penulisan sastra sebelumnya? Bagaimana sastra Indonesia berdialog dengan sastra dunia? Apakah konteks kekinian semisal globalisasi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi mempengaruhi proses penciptaan sastra Indonesia mutakhir? Bagaimana eksplorasi bentuk genre, tema, gagasan dan kecenderungan dalam karya sastra Indonesia mutakhir? Sejumlah pertanyaan penyelenggara itu bisa menggiring anda menulis kritik sastra dengan membahas satu atau beberapa pertanyaaan di atas, satu atau beberapa karya, satu atau beberapa pengarang.

Esei ditulis dalam Bahasa Indonesia secara bebas, mengalir, bukan berupa format artikel akademis, karya asli, bukan jiplakan, diketik spasi 1,5, huruf Times New Roman 12, panjang 15-20 halaman. Sayembara berhadiah total Rp 33.000.000 tersebut batas akhir penyerahan naskah 30 September 2007 dan pemenangnya akan diumumkan dalam sebuah acara di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 7 Desember 2007. Naskah dikirimkan ke alamat Panitia Sayembara Mengarang Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2007 : Dewan Kesenian Jakarta, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta 10330. Informasi lebih lanjut hubungi Lina telepon (021) 3162780 atau info@dkj.or.id. (donna zabinu sahab)

Tahlillan untuk A Alin De

SEHARI sesudah dimakamkan di Perkuburan Tunggul Hitam Padang, Senin malam (20/8), para seniman menyelenggarakan tahlilan untuk almarhum A Alin De di Ruang Pameran Taman Budaya Sumbar dengan membacakan surat Yasiin. Teaterawan A Alin De (55th),  meninggal hari Minggu, 19 Agustus 2007 pukul 07.30 di Kayutanam, Pimpinan Teater Dayung Dayung itu wafat menjelang latihan “Drama Pelarian” . Cerita yang ditulis dan disutradarai almarhum tetap digelar Selasa, 21 Agustus 2007. Selain unsur pimpinan Taman Budaya, terlihat dalam tahlilan itu sejumlah pekerja dan pengamat teater, antara lain Zamzami Ismail, M.Ibrahim Ilyas, Syuhendri, Muslim Noer, Fauzul el Nurca, Kardi Kampai, Armeynd Sufhasril dan Asbon Budinan Haza. Seniman non teater diantaranya Musra Dahrizal Katik, Efiyarti, Indra Kagami, Fitri Adona dan lain-lain. Isteri, anak dan cucu A Alin De bersama segenap pemain “Drama Pelarian” juga eks anggota Teater Dayung Dayung di tahun 1980-an dengan khitmad mendengarkan kenangan sekilas sesepuh seniman, Bagindo Fahmi tentang almarhum. (donna zabinu sahab)


.

Hermawan & Dunia Film

Agustus 15, 2009

Flash Website Templates, eCommerce, Cre Loaded, Zen Cart, CMS, Joomla, WordPress : Websitetemplates.bz

Agustus 19, 2009

Flash Website Templates, eCommerce, Cre Loaded, Zen Cart, CMS, Joomla, WordPress : Websitetemplates.bz

Shared via AddThis

Agustus 16, 2009


Pekan Budaya Sumatera Barat 6 S.d 12 Juli 2008 PadangThese bloopers are hilarious

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.